Belakangan ini, Snouck Hurgonje cukup mengganjal di pemikiran saya. Sebenarnya, apa yang membuat Snouck memang di Aceh pada saat Perang Aceh dulu?
Snouck Hurgonje adalah tokoh yang tidak boleh dilewatkan kalau kita berbicara mengenai Islam dan perang zaman kolonial Belanda. Ia adalah salah satu orientalis, yang sukses melemahkan lawan secara sistematis. Triknya mudah, tapi keji. Mengubah orientasi pemikiran.
Snouck menyusupkan ide-ide Al-Jabariyah dan tasawuf (pemikiran bahwa nasib manusia ada di tangan Tuhan) di dalam komunitas pejuang Aceh yang waktu itu menganut paham Qadariyah (pemikiran bahwa nasib manusia berada di tangan manusia itu sendiri). Secara tidak langsung, ini mengubah pola pemikiran masyarakat Aceh, bahwa suatu saat nanti, ketika Aceh jatuh di tangan Belanda merupakan suatu nasib dan cobaan.
Dengan trik lainnya, hasilnya efektif. Snouck melaporkan hal ini ke Gubernur Jenderal, saat itu, dan kemudian kompeni Belanda melancarkan serangan pamungkas mereka, sehingga timbullah Plakat Pendek.
Kalau anda tidak mengerti pendekatan ini, mari kita ambil contoh yang lebih mudah. Mengapa Keiichi, Shion, Rika, dan kawan-kawan berhasil mengalahkan pasukan Yamainu?
Hal ini karena kepercayaan mereka (satu hal penting) dan juga ghozwul fikri (perang pemikiran) yang mereka lakukan. Dengan trik yang hebat, mereka membuat pemikiran kepada pasukan Yamainu bahwa kekalahan mereka karena kutukan Oyashiro-sama. Trik psikologis ini sangat menekan, dan praktis mereka bubar dengan sendirinya.
Kemudian, didukung dengan trik yang baik lainnya pun, mereka mampu membalik kondisi saat itu, hingga akhirnya sekelompok anak-anak pun bisa menaklukkan sebuah kekuatan yang besar, licik, dan menakutkan.
Apa hal yang paling jelas terlihat? Mengubah mindset, dari faktor internal. Untuk mendapatkan kekuatan, lakukan propaganda negatif pada lawan, dan propaganda positif pada kawan.
Tapi, saya tidak melakukan propaganda negatif kepada lawan. Untuk memajukan anime Indonesia, kita membutuhkan kemampuan dan perjuangan bersama. Perjuangan memajukan anime Indonesia hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bebas dari belenggu pemikiran primordial dan chauvinistis yang ada sekarang.
Mereka berpikir chauvinis pada anime, hingga dengan mudah bisa mengatakan film Indonesia sama dengan sampah. Padahal, apa benar demikian?
Saya menemukan suatu hal. Fikri (pemikiran) menentukan segalanya. Tugas besar KAORI, untuk mengubah pola chauvinis pada anime ini, menjadi chauvinis pada kebenaran. Sehingga, mewujudkan masyarakat anime Indonesia yang berbudaya dan bernilai sosial tinggi bukanlah sebuah mimpi.
Bukan mewujudkan orang yang menghina fansub berbahasa Indonesia, atau menghina produk Indonesia.
Oleh Shin Muhammad





keren banget tulisannya bro…